Kisah taubat Fudhail bin
Iyadh merupakan sebuah kisah yang luar biasa. Bagaimana seorang perampok yang
ditakuti, bisa menjadi takut dan kembali ingat kepada Allah setelah mendengar
percakapan kafilah dagang yang takut kepadanya dan mendengarkan ayat Alquran.
Padahal hari ini, banyak manusia –mungkin termasuk kita di dalamnya- adalah
bukan seorang perampok, bukan juga orang yang dikenal sebagai penjahat atau
orang yang terbiasa melakukan dosa secara terang-terangan, tetapi ketika
mendengar ayat Alquran hati kita tidak bergetar, tidak mengingat dan
mengagungkan Allah, nas’alullaha at-taufiq. Bagaimana kisah taubat seorang yang
kemudian menjadi ulama besar ini.
jadikan mutiara ucapan dan kisah hidup mereka sebagai suri tauladan kehidupan kita
Rabu, 08 Januari 2014
Selasa, 07 Januari 2014
KESABARAN DAN BALASAN YANG INDAH
Abu Ibrahim bercerita:
Suatu ketika, aku
jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan
sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada
seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang…
Ternyata orang ini kedua
tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat
bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..
Aku mendekat untuk
mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ
خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق
تَفْضِيْلاً
Segala puji bagi Allah yg
melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di
atas banyak manusia…
Sabtu, 12 Oktober 2013
Akibat Dosa dan Durhaka
Al Hasan Al Basri berkata
: “Tidaklah seorang hamba mendurkai Allah kecuali Allah juga akan
menghinakannya”
Al Hasan juga berkata : “Mereka
meremehkan Allah dan mendurhakainya, andaikan mereka memuliakan Allah, niscaya
Allah akan menjaga mereka”
Abu Sulaiman Ad-Darniy
berkata : “Barang siapa mensucikan diri, maka dia aka diberi kesucian itu, dan
barang siapa mengotori diri, maka kotoran itu akan diberikan kepadanya. Barang
siapa melakukan kebaikan pada malam harinya, maka dia diberi perlindungan pada
siang harinya, dan barang siapa melakukan kebaikan pada siang harinya, maka dia
diberi perlindungan pada malam harinya. Barang siapa mengabaikan Alah karena
syahwat didalam hatinya, maka Allah berhak untuk menyiksa hatinya.
Nasehat Ibnu Mas'ud yang berharga
Dari Ibnu Mas’ud
radliyallaahu ’anhu bahwasannya ia pernah berkata suatu saat ketika sedang
duduk :
إِنَّكُمْ فِي
مَمَرِّ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ فِي آجَالٍ مَنْقُوصَةٍ ، وَأَعْمَالٍ مَحْفُوظَةٍ
، وَالْمَوْتُ يَأْتِي بَغْتَةً ، مَنْ زَرَعَ خَيْرًا فَيُوشِكُ أَنْ يَحْصُدَ رَغْبَةً
، وَمَنْ زَرَعَ شَرًّا فَيُوشِكُ أَنْ يَحْصُدَ نَدَامَةً ، لِكُلِّ زَارِعٍ مِثْلَ
مَا زَرَعَ ، لا يَسْبِقُ بَطِيءٌ بِحَظِّهِ ، وَلا يُدْرِكُ حَرِيصٌ مَا لَمْ يُقَدَّرْ
لَهُ ، فَمَنْ أُعْطِيَ خَيْرًا ، فَاللَّهُ أَعْطَاهُ ، وَمَنْ وُقِيَ شَرًّا فَاللَّهُ
وَقَاهُ ، الْمُتَّقُونَ سَادَةٌ ، وَالْفُقَهَاءُ قَادَةٌ ، وَمُجَالَسَتُهُمْ زِيَادَةٌ .
Sesungguhnya kalian berada
di tengah perjalanan malam dan siang, dalam ajal/usia yang selalu berkurang,
dalam amal-amal yang selalu dalam penjagaan (Allah). Sedangkan maut senantiasa
datang dengan tiba-tiba. Barangsiapa yang menanam kebaikan, niscaya ia akan
menuai kebahagiaan. Dan barangsiapa yang menanam kejelekan, niscaya ia akan
menuai penyesalan. Setiap orang yang menanam akan menuai hasil sebagaimana yang
ia tanam. Seorang yang lambat tidaklah mendahului (orang lain) dengan
keberuntungannya. Begitu juga seorang yang tamak tidaklah mendapatkan apa-apa
yang tidak ditetapkan baginya. Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka Allah
lah yang memberikan (kebaikan itu) kepadanya. Dan barangsiapa yang dijauhkan
dari kejelekan, maka Allah lah yang menjauhkan (kejelekan ) itu darinya.
Orang-orang yang bertaqwa itu adalah orang-orang yang mulia, dan para fuqahaa
(ahli fiqh) para pembimbung umat. Adapun duduk bermajelis dengan mereka semua
adalah keutamaan”
[Siyaru A’lamin-Nubalaa’
1/497]
Sabtu, 22 Juni 2013
Menyamar Menjadi Pengemis Untuk Menuntut Ilmu
Imam Baqi bin Mikhlad Nama
beliau. Beliau dari negeri yang sangat jauh yaitu Andalusia sekarang bernama
Spanyol. Dengarkan kisah suka dan dukanya dalam mengambil Ilmu kepada Imam
Ahmad di Bagdad (Irak) selamat menyimak.
Beliau bercerita : Saya
berangkat dengan berjalan kaki dari Andalusia menuju ke Baqdad untuk bertemu
dengan Imam Ahmad untuk mengambil hadits dari beliau. Ketika saya mendekati
Baqdad saya mendapati informasi tentang ujian yang menimpa Imam Ahmad, sayapun
menyadari bahwa Imam Ahmad dilarang untuk
Selektif Dalam Memilih Teman Bergaul
عَنْ اَبِى مُوْسَى عَنِ النَّبِيّ قَالَ: اِنَّمَا
مَثَلُ اْلجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَ اْلجَلِيْسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ اْلمِسْكِ وَ نَافِخِ
اْلكِيْرِ. فَحَامِلُ اْلمِسْكِ اِمَّا اَنْ يُحْذِيَكَ وَ اِمَّا اَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ
وَ اِمَّا اَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيّبَةً. وَ نَافِخُ اْلكِيْرِ اِمَّا اَنْ
يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَ اِمَّا اَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً. مسلم 4: 2026
Dari Abu Musa, dari Nabi
Shalallahu alaihi wa sallam beliau bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan
teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak
wangi dan tukang pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, boleh jadi ia akan
memberimu atau kamu akan membeli (minyak wangi) darinya, atau kamu akan
mendapati bau harumnya. Adapun tukang pandai besi, boleh jadi akan membakar
pakaianmu, atau kamu akan mendapatkan bau busuknya". [HR. Muslim juz 4,
hal. 2026]
الْمَرْءُ عَلىَ دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ
مَنْ يُخَالِل
Rasulullah bersabda :
“Seseorang itu mengikuti agama sahabatnya. Maka, hendaklah kalian memperhatikan
siapa sahabat kalian”. HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927
Rasulullah bersabda :
“Janganlah anda berteman melainkan dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu,
kecuali orang bertaqwa”. HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud dengan sanad yang
hasan.
Berkata Umar bin Khathab :
“Janganlah anda berjalan bersama orang fajir (yang bergelimangan dalam dosa),
karena dia akan mengajarkan kepada anda perbuatan dosanya.
Berkata Muhammad bin Wasi'
: “Tiadalah tersisa dari kenikmatan dunia, selain shalat berjama'ah dan
berjumpa dengan teman (yang shalih)”.
Berkata Bilal bin Sa'ad :
“Saudaramu yang selalu mengingatkanmu akan kedudukanmu di sisi Allah adalah
lebih baik bagimu daripada saudaramu yang selalu memberimu dinar (harta
benda)”.
Berkata sebagian salaf :
“Orang yang paling lemah (tercela), yaitu orang yang tidak mau mencari teman
(yang baik). Dan yang lebih lemah (tercela) daripadanya, ialah orang -yang
apabila telah mendapatkan teman (yang baik)- ia menyiakannya.
Alangkah bahagianya,
apabila kita diberi rezki oleh Allah berupa teman yang shalih. Teman yang
selalu mengingatkan dan menasihati kita untuk tetap istiqamah, sehingga kita
selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Itulah teman yang baik dan
bermanfaat di dunia dan akhirat.
disarikan dari berbagai sumber
Jangan Kenyang-Kenyang Mas Bro...!!!
Ibnu Abbas
berkata : “Allah telah menghalalkan makan
dan minum, selama tidak berlebih-lebihan dan tidak ada unsur
kesombongan. Berlebihan
dalam makan, dapat mengakibatkan banyak hal buruk. Ia menggerakkan anggota tubuh untuk
melakukan maksiat, serta menjadikannya merasa berat untuk taat dan ibadah. Cukuplah
dua hal ini sebagai suatu keburukan”.
Dari Utsman
bin Za'idah berkata, Sufyan Ats-Tsauri berkirim surat kepadaku : “Apabila
engkau ingin badanmu sehat dan ringan tidurmu, maka sedikitkanlah makanmu”.
'Aisyah
meriwayatkan, sejak masuk Madinah, keluarga Rasulullah belum pernah merasa kenyang oleh roti
gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau wafat. (HR. Bukhari dan Muslim)
Amir bin Qais
berkata: “Berhati-hatilah engkau
dari banyak makan. Karena hal itu menyebabkan kerasnya hati”.
Abu Sulaiman
Ad-Darimi berkata :
"Kunci dunia adalah kenyang, sedangkan kunci akhirat adalah
lapar."
Al-Harits bin
Kaladah -salah seorang pakar kedokteran Arab pada masa lalu berkata : “Yang membunuh manusia
dan membinasakan binatang-binatang buas di dunia ini, ialah memasukkan
makanan di atas makanan sebelum selesai pencernaan”.
Ibrahim bin Adham
berkata : “Barangsiapa
memelihara perutnya, akan terpeliharalah agamanya. Dan barangsiapa mampu
menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang mulia. Sesungguhnya,
kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan seorang yang
kenyang”.
Langganan:
Postingan (Atom)

