Jumat, 18 November 2011

Jihad Terbesar


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Ankabut : 69)

Imam Ibnu Qoyyim berkata, menafsirkan ayat ini : “Allah mengkorelasikan (mengaitkan) antara Hidayah dengan Jihad. Manusia yang paling sempurna Hidayahnya adalah manusia yang paling besar jihadnya. Dan Jihad yang paling wajib yaitu Jihad melawan diri sendiri, jihad melawan hawa nafsu, jihad menghadapi Syaithon, dan jihad menghadapi fitnah Dunia”.

Shodaqoh Tanpa Harta Benda

Ibnu Rojab Al Hanbali berkata : “Shodaqoh tanpa menggunakan harta itu ada 2 macam : 

Pertama : Menyampaikan kebaikan kepada para Makhluk, itulah shodaqoh yang ia berikan kepada mereka.
Terkadang shodaqoh seperti ini lebih utama daripada shodaqoh menggunakan harta. Contohnya ini seperti Amar Ma’ruf nahi munkar, yaitu berdakwah menuju ketaatan kepada Allah, mencegah kemaksiatan, dan hal ini lebih afdhol ketimbang shodaqoh dengan harta.
Begitu juga mempelajari ilmu yang bermanfaat, membaca Alquran, menyingkirkan gangguan yang ada di jalan, bekerja untuk memberikan kemanfaatan kepada manusia dan menghilangkan gangguan dari mereka.

Kedua : Shodaqoh yang ia kerjakan sebatas untuk kemaslahatan dirinya sendiri. Seperti berbagai macam Dzikir, baik itu berupa takbir, tahmid, tahlil dan Istighfar”.

Cuma Sedikit Tetapi Dicintai Allah

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

(( أَحَبُّ الْأعْمالِ إِلىَ اللهِ أَدْوَمُها وَإنْ قَلّ ))
“Amalan-amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus walaupun Cuma sedikit”. (HR. Bukhori)

Berkata Imam Nawawi : “Amalan yang sedikit tetapi kontinyu/berkesinambungan itu lebih baik daripada amalan yang kuantitasnya banyak tetapi terputus-putus/tidak terus  menerus. Karena dengan berkesinambungannya amalan yang sedikit akan tercipta ketaatan, dzikir (mengingat) Allah, muroqobah (merasa diawasi), niat dan keikhlasan yang terus menerus dan pasrah menerima kepada Allah. Dan juga amalan yang sedikit tetapi terus menerus maka akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat lebih banyak dari pada amalan banyak tetapi tidak terus menerus”.

Menggapai Shirothol Mustaqim di Dunia dan Akherat

Seorang yang istiqomah di dunia ini di atas hidayah, maka Allah akan berikan petunjuk untuknya ketika menghadapi hari Kiyamat.

Berkata Ibnul Qoyyim : “Barangsiapa yang mendapatkan petunjuk di dunia ini untuk meniti jalan Allah yang lurus (shirothol mustaqim), yang dengan sebab itulah diutus Para Rasul, dan diturunkan Kitab-kitab, niscaya ia akan diberikan petunjuk untuk menempuh shirothol mustaqim yang menghantarkannya ke surga dan tempat balasan dari amalannya.
Sebagaimana kokohnya ia menginjakkan kakinya di shirothol mustaqim (jalan yang lurus) yang Allah bentangkan di dunia ini, seperti itu pula kakinya akan kokoh ketika berada di shiroth, jembatan yang dibentangkan di atas Neraka Jahannam kelak. Sebagaimana pula bagaimana ia berjalan di atas shirothol mustaqim yang ada di dunia ini, seperti itu juga dia akan berjalan di atas shiroth (jembatan) di Hari Kiyamat”.

Beratnya Kesabaran

Abu Thalib Al Makki perkata : 

“Ketahuilah, bahwasanya kesabaran merupakan salah satu sebab masuk kedalam surga, dan selamat dari neraka. Karena ada dalil yang menerangkan bahwa : ( Surga dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci dan neraka dilingkupi oleh hal-hal yang disukai jiwa ). Sehingga seorang mukmin sangat membutuhkan kesabaran untuk menghadapi hal-hal yang ia benci untuk masuk kedalam surga, dan juga membutuhkan kesabaran untuk menghadapi syahwat agar selamat dari neraka.”

Di tempat lain beliau juga pernah berkata : 

وَاعْلَم أنّ كَثرَةَ مَعاصِي الْعِبادِ في شَيْئيْنِ :قِلّة الصّبْر عَمّا يُحبّونَ ، وقِلّة الصَّبرِ عَلى مَا يَكرَهُونَ

“Ketahuilah bahwasannya kebanyakan dosa-dosa hamba itu terletak di 2 hal : Sedikit kesabaran terhadap yang ia cintai dan sedikit sekali kesabaran ketika berhadapan dengan hal yang ia benci”.

Keutamaan Menjaga Allah


Berkata Masruq bin Al Ajda’ : “Barangsiapa takut kepada Allah dari dalam lubuk hatinya, niscaya Allah akan menjaga aktifitas anggota tubuhnya”.

Sebagian salaf berkata : “Baransiapa yang menjaga Allah, berarti dia telah menjaga dirinya sendiri”.

Muhammad bin Munkadir berkata : “Sesungguhnya dengan adanya seorang yang sholih Allah akan menjaga Anak dan cucunya, kampung tempat ia menetap, rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Selalu dalam lindungan Allah dan naungan-Nya”.