Abu
Abdillah Ays-Syamy berkata, aku pernah datang ke rumah Thawus, lalu aku
menjumpai lelaki agak tua, kemudian aku bertanya; Anda Thawus ? Ia menjawab :
"Aku putranya". Jika anda putranya, maka Syeikh (Thowus) tentu tua
renta dan mungkin kehilangan ingatannya ? Kemudian terdengar jawaban dari
dalam rumah, "Orang yg berilmu lagi senantiasa menjaga Allah, tdk akan
pikun, Allah pasti menjaganya". Kemudian aku masuk kedalam rumah. Thowus
berkata," Bertanyalah dan persingkatlah! Bila engkau mengkehendaki rangkuman
kitab Taurat-Zabur-Injil & Al-Furqon (Al Quran) maka akan aku rangkumkan
untukmu? Aku menjawab : "Ya aku berkenan". Lalu Thowus berkata,
"Takutlah kepada Allah hingga tidak ada satupun yang engkau takuti
daripada kepada Allah. Berharaplah hanya kepada Allah hingga harapanmu kpd-Nya
lebih kuat daripada ketakutanmu kepada-Nya. Dan cintailah untuk orang lain
apa-apa yg engkau cintai untuk dirimu sendiri". Hilyatul-Auliya' 4/11.
jadikan mutiara ucapan dan kisah hidup mereka sebagai suri tauladan kehidupan kita
Jumat, 18 Januari 2013
Sabtu, 10 Maret 2012
KISAH PEMUDA DENGAN BIDADARI BERMATA JELI
Abdul Wahid bin Zaid
berkata, “Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis kami, aku pun sudah siap
dengan pakaian perangku, karena ada komando untuk bersiap-siap sejak Senin
pagi. Kemudian saja ada seorang laki-laki membaca ayat, (artinya) ‘Sesungguhnya
Allah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberi
Surga.’ (At-Taubah: 111). Aku menyambut, “Ya, kekasihku.”Laki-laki itu berkata,
“Aku bersaksi kepadamu wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwa
dan hartaku dengan harapan aku memperoleh Surga.”
Aku menjawab,
“Sesungguhnya ketajaman pedang itu melebihi segala-galanya. Dan engkau sajalah
orang yang aku sukai, aku khawatir manakala engkau tidak mampu bersabar dan
tidak mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini.”
Laki-laki itu berkata,
“Wahai Abdul Wahid, aku telah berjual beli kepada Allah dengan harapan mendapat
Surga, mana mungkin jual beli yang aku persaksikan kepadamu itu akan melemah.”
Dia berkata, “Nampaknya aku memprihatinkan kemampuan kami semua, …kalau orang
kesayanganku saja mampu berbuat, apakah kami tidak?” Kemudian lelaki itu
menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah kecuali seekor kuda, senjata dan
sekedar bekal untuk perang. Ketika kami telah berada di medan perang dialah
laki-laki pertama kali yang tiba di tempat tersebut. Dia berkata, “Assalamu
’alaika wahai Abdul Wahid,” Aku menjawab, “Wa’alaikumussalam warahmatullah wa
barakatuh, alangkah beruntungnya perniagaan ini.”
Kemudian kami berangkat
menuju medan perang, lelaki tersebut senantiasa berpuasa di siang hari dan
qiyamullail pada malam harinya melayani kami dan menggembalakan hewan ternak
kami serta menjaga kami ketika kami tidur, sampai kami tiba di wilayah Romawi.
Ketika kami sedang
duduk-duduk pada suatu hari, tiba-tiba dia datang sambil berkata, “Betapa
rindunya aku kepada bidadari bermata jeli.”
Kisah Seorang Yang Syukur dan Dua Temannya Yang Kufur
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu.,
Rasulullah salallahu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),
"Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil yang belang, botak, dan
buta. Allah bermaksud menguji mereka, maka Allah mengutus malaikat kepada
mereka.
Malaikat itu datang kepada
Si Belang dan bertanya, 'Apakah sesuatu yang paling engkau inginkan?'
Si Belang menjawab, 'Saya
menginginkan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilangnya penyakit
yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku.'
Maka, malaikat itu lantas
mengusap Si Belang. Seketika itu hilanglah penyakit yang menjijikkan itu serta ia
diberi paras yang tampan dan kulit yang bagus.
Malaikat itu bertanya
lagi, 'Harta apakah yang paling engkau senangi?'
Si Belang menjawab, 'Unta
(atau ia mengatakan sapi).'
Kemudian, ia diberi unta
yang bunting sepuluh bulan, dan malaikat tadi berkata, 'Semoga Allah memberi
berkah dan rahmat atas apa yang engkau terima.
Selasa, 20 Desember 2011
Kisah Hidup Imam Abu Hanifah yang Menakjubkan
Wajahnya tampan dan ceria, fasih bicaranya dan santun tutur katanya. Tidak terlalu tinggi badannya, tidak pula terlalu pendek sehingga enak dipandang mata. Di samping itu, beliau suka berpenampilan rapi, wajahnya ceria dan gemar memakai wewangian. Ketika muncul di tengah-tengah manusia, mereka bisa menebak kedatangannya dari bau wanginya sebelum melihat orangnya.
Itu lah dia Nu’man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah, orang pertama yang meletakkan dasar-dasar fikih dan mengajarkan hikmah-hikmah yang baik.
Abu Hanifah masih merasakan hidup sesaat sebelum berakhirnya khilafah bani Umayah dan awal kekuasaan bani Abasiyah. Beliau hidup pada suatu masa di mana para khalifah dan para gubernur memanjakan para ilmuwan dan ulama hingga rejeki datang kepada mereka dari segala arah tanpa mereka sadari.
Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat jiwa dan ilmunya dari semua itu. Sesampainya di istana beliau disambut ramah dengan penuh hormat, dipersilakan duduk di samping khalifah Al-Manshur kemudian khalifah bertanya tentang banyak persoalan yang menyangkut agama maupun dunia.
Minggu, 18 Desember 2011
10 Nasehat Untuk Pengantin Wanita
Alangkah indah nasihat seorang ibu untuk putrinya yang hendak dinikahkan dengan al-Harits bin ‘Amr al-Kindi. Dia pesankan,
“Wahai putriku, sesungguhnya jikalau wasiat tak lagi diberikan untuk seorang yang beradab dan bernasab mulia, tentu takkan kuberikan wasiat ini untukmu. Namun, wasiat adalah pengingat bagi orang yang berakal dan pemberi peringatan bagi orang yang lalai.
Wahai putriku, seandainya anak perempuan tak lagi membutuhkan suami karena ayah bundanya telah mencukupinya, sesungguhnya engkau orang yang paling tak butuh terhadap suami. Namun, kita ini diciptakan untuk kaum laki-laki, sebagaimana pula diciptakan kaum laki-laki untuk kita.
Wahai putriku, engkau hendak berpisah dengan tempat kelahiranmu, meninggalkan kehidupan yang dahulu engkau tumbuh di sana, menuju tempat yang tak kau kenal bersama teman yang asing bagimu. Dengan kepemilikannya atas dirimu, dia menjadi penguasa atasmu. Berlakulah layaknya hamba sahayanya, niscaya dia akan menjadi sahaya yang tunduk kepadamu. Jagalah sepuluh hal yang akan menjadi simpanan berharga bagimu:
1. Bergaullah dengannya dengan penuh qana’ah karena qana’ah akan melapangkan hati.
Urwah bin Zubair, Seorang Alim yang Dermawan
Pagi itu, matahari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyama ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sisa-sisa sahabat Rasulullah saw dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan do’a-do’a yang shalih.
Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekliling Ka’bah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita diantara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa.
Di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Seakan-akan mereka bagian dari perhiasan masjid, bersih pakainnya dan menyatu hatinya.
Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mus’ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi adalah Abdul Malik bin Marwan.
Perhatian Umar bin Abdul Aziz terhadap Rakyatnya
Diceritakan oleh seorang qadhi Mushil Yahya Al-Ghassani, beliau menuturkan ceritanya:
Suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkeliling di pasar-pasar Himsha untuk memantau situasi perdagangan dan mengamati harga-harga. Mendadak seseorang berpakaian merah menghadang di depannya seraya berkata, “Wahai amirul mukminin, saya mendengar berita bahwa barangsiapa yang mempunyai keluhan, dia boleh mengadukannya secara langsung kepada Amirul Mukminin.” Beliau menjawab, “Benar.” Orang itu berkata, “Di hadapan Anda telah ada seorang yang teraniaya dan jauh dari rumahnya.” Khalifah bertanya, “Dimanakah keluargamu?” Dia menjawab, “Di Aden.” Khalifah berkata, “Demi Allah, rumahmu benar-benar jauh dari rumah Umar.” Khalifah segera turun dari kudanya dan berdiri di depan orang itu lalu bertanya, “Apa keluhanmu?” dia berkata, “Barang saya hilang karena diambil oleh orang yang mengaku pegawai Anda, lalu dia merampas barang milik saya.”
Langganan:
Postingan (Atom)